Sejarah Banjir Jakarta: Dari Masa Kolonial hingga Era Modern

 Banjir bukanlah fenomena baru bagi Jakarta. Sebagai kota yang dibangun di atas dataran rendah dan dilalui 13 sungai besar, banjir sudah menjadi bagian dari sejarah panjang ibu kota sejak masa kolonial Belanda hingga kini. Namun, penyebab, dampak, dan penanganannya telah mengalami evolusi seiring perkembangan kota dan perubahan iklim.


Awal Mula: Dari Batavia ke Jakarta



Pada abad ke-17, saat VOC membangun Batavia di muara Sungai Ciliwung, Belanda sudah menghadapi tantangan besar: air. Kota ini dibangun di atas tanah rawa dengan sistem kanal yang meniru Amsterdam. Namun, kondisi tropis Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi membuat sistem kanal tersebut cepat meluap. Catatan tahun 1699 menunjukkan banjir besar melanda Batavia akibat letusan Gunung Salak yang menyebabkan sedimentasi parah di Sungai Ciliwung.


Kondisi ini berulang kali terjadi sepanjang abad ke-18 dan ke-19. Pada masa itu, banjir bukan hanya karena curah hujan, tetapi juga karena tata kota yang tidak memperhatikan aliran air alami dari hulu ke hilir.
insigt menarik : https://sumbersejarah202.blogspot.com/2025/10/status-tinggi-muka-air-tma-di-berbagai.html


Masa Setelah Kemerdekaan: Pertumbuhan Kota, Masalah Baru


Setelah Indonesia merdeka, pembangunan Jakarta sebagai ibu kota nasional membawa perubahan besar. Urbanisasi masif pada 1950–1980-an menyebabkan alih fungsi lahan di wilayah selatan dan timur — daerah yang dulunya berfungsi sebagai daerah resapan air. Beton menggantikan tanah, dan sungai-sungai mulai menyempit oleh permukiman.


Banjir besar tercatat pada tahun 1979, 1996, dan 2002. Banjir 2002 bahkan menenggelamkan 60% wilayah Jakarta, memaksa lebih dari 350.000 warga mengungsi. Ini menjadi titik balik penting: pemerintah mulai membangun proyek-proyek besar seperti Banjir Kanal Timur (BKT) dan normalisasi Sungai Ciliwung.

https://sumbersejarah202.blogspot.com/2025/08/sejarah-media-di-indonesia.html

Era Modern: Antara Adaptasi dan Krisis Iklim



Memasuki era 2010-an, banjir Jakarta semakin kompleks. Selain faktor lokal seperti penyempitan sungai dan drainase buruk, kini ada dua ancaman besar lain: penurunan tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan laut (sea level rise). Beberapa wilayah utara Jakarta, seperti Muara Baru dan Pluit, turun hingga 10–15 cm per tahun — membuatnya lebih cepat tergenang meski hujan tidak ekstrem.


Banjir besar tahun 2013, 2020, dan 2021 menegaskan bahwa tantangan Jakarta bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga tata kelola dan perencanaan jangka panjang. Proyek-proyek seperti Giant Sea Wall (NCICD) dan normalisasi 13 sungai utama diupayakan untuk mengendalikan risiko ini, meski masih menghadapi kendala sosial dan birokrasi.


Menuju Masa Depan: Solusi Terpadu dan Adaptif


Mengatasi banjir Jakarta kini tak bisa hanya dengan membangun tanggul atau kanal. Diperlukan pendekatan ekohidrologi dan adaptasi iklim, seperti:

  • Restorasi daerah resapan di kawasan selatan,
  • Pengelolaan sampah berbasis komunitas untuk mencegah sumbatan sungai,
  • Revitalisasi situ, danau, embung, serta waduk,
  • Pembangunan sistem peringatan dini digital berbasis data real-time.

Beberapa inisiatif masyarakat, seperti Gerakan Bersihkan Sungai Ciliwung dan proyek naturalisasi sungai, telah menunjukkan hasil positif dalam menurunkan genangan di beberapa titik.


Penutup


Sejarah banjir Jakarta adalah cerminan dinamika kota yang terus tumbuh di tengah tekanan alam dan manusia. Dari Batavia yang dikelilingi kanal hingga Jakarta modern dengan infrastruktur megah, tantangannya tetap sama: bagaimana hidup berdampingan dengan air.
Dengan strategi yang tepat, kolaborasi lintas sektor, dan kesadaran lingkungan yang lebih tinggi, harapan untuk menjadikan Jakarta kota yang tangguh terhadap banjir bukanlah hal mustahil.


Baca juga : https://sumbersejarah202.blogspot.com/2025/10/GGWP-ke-GGPLAY88-hingga-Era-Baru.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah GGPlay88: Dari GGWP ke GGPLAY88 hingga Era Baru Bersama Negative Nimbus Storm Technology

🔗 Sejarah Mengenal HeyLink: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Cara Menggunakannya

Status Tinggi Muka Air (TMA) di Berbagai Pintu Air Jakarta Hari Ini